Saya ingin memulai tulisan ini dengan pertanyaan yang sederhana tapi menggugah

Kenapa kita nyaris tak pernah melihat laki-laki menerima bunga di momen spesial mereka? Padahal, jika kita jujur, siapa pun bisa tersentuh oleh keindahan dan ketulusan yang terpancar dari seikat bunga.

Di Indonesia, pemberian bunga masih lekat dengan kesan feminin. Bunga untuk ibu, untuk istri, untuk pacar perempuan, untuk rekan kerja wanita. Sementara laki-laki? Jarang. Bahkan terkesan “tak pantas” jika seorang pria menerima bunga, apalagi di depan umum.

Penasaran? Ayo kita caritahu di sini…

Dari Norma Sosial atau Bias Budaya?
Banyak dari kita tumbuh dalam budaya yang secara tidak langsung mengajarkan bahwa bunga adalah simbol kelembutan, dan kelembutan hanya milik perempuan. Akibatnya, ketika ada laki-laki yang menerima bunga, bisa timbul reaksi canggung atau bahkan lelucon.

Saya pernah melihat seorang guru laki-laki menerima buket dari murid-muridnya saat ulang tahun. Buket itu sederhana, hanya berisi bunga matahari dan mawar putih. Tapi komentar yang muncul malah, “Wah, kok kayak cewek aja, Pak.” Reaksi semacam itu menunjukkan bahwa kita masih terjebak pada dikotomi maskulin–feminin yang sempit.

Bunga Adalah Bahasa Perasaan — Bukan Gender
 

close
arrow_forward_iosBaca selengkapnya
Pause
00:00
00:58
01:16
Mute

Powered by
GliaStudios
Yang kita lupa, bunga bukan soal jenis kelamin. Bunga adalah bahasa visual dari perasaan: ucapan terima kasih, dukungan, cinta, penghormatan. Dan perasaan itu milik semua orang — laki-laki, perempuan, siapa saja.

Di beberapa negara, pemberian bunga kepada laki-laki adalah hal yang wajar. Di Rusia, bunga diberikan kepada tentara saat kembali dari medan tugas. Di Jepang, bos yang pensiun diberi rangkaian bunga oleh anak buahnya — terlepas dari gender. Di Brasil, pemberian bunga untuk pria dalam acara penghargaan bukanlah hal aneh.

Lalu, kenapa kita belum sampai ke sana?

Sudah Saatnya Kita Ubah Pola Pikir

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Kenapa Laki-laki di Indonesia Jarang Diberi Bunga?”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/rulibudi5873/6882037d34777c70462c5fb2/kenapa-laki-laki-di-indonesia-jarang-diberi-bunga

Kreator: Ruli Budi

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com